PRESENT PERFECT TENSE

PRESENT PERFECT TENSE

Present perfect tense adalah suatu pekerjaan atau peristiwa yang menyatakan suatu perbuatan yang telah dikerjakan pada masa lampau dan telah berakhir pada saat itu pula. Masa lampau bisa baru saja, tadi, kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, dsb.

Keterangan waktu yang umumnya digunakan adalah since (sejak), for (selama), just (baru saja), just now (baru saja), before (sebelumnya).

  1. I.                   Bentuk Kalimat

 

  1. Kalimat Nominal
  • Positive

Subject                          + Has/Have                 + Been             + Object

  • Negative

Subject                          + Has/Have Not          + Been             + Object

  • Interrogative

Has/Have                      + Subject                     + Been             + Object

 

  • Has digunakan untuk He, She, It.
  • Have digunakan untuk I, You, We, They.

 

 

  1. Kalimat Verbal
  • Positive

Subject                          + Have/Has                 + Verb 3          + Object

  • Negative

Subject                          + Have/Has Not          + Verb 3          + Object

  • Interrogative

Have/Has                      + Subject                     + Verb 3          + Object

 

 

 

 

 

 

  1. II.                Contoh Penggunaan Kalimat
  2. Kalimat Nominal

Ia telah menjadi guru selama 2 tahun.

  • Positive

He has been a teacher for 2 years

  • Negative

He hasn’t been a teacher for 2 years

  • Interrogative

Has he been a teacher for 2 years?

Yes, he has

No, he hasn’t

 

  1. Kalimat Verbal

Kami telah dikenal sejak 2007.

  • Positive

We have known since 2007

  • Negative

We haven’t known since 2007

  • Interrogative

Have we known since 2007?

Yes, we have

No, we haven’t

PRESENT PERFECT TENSE

PRESENT PERFECT TENSE

Present perfect tense adalah suatu pekerjaan atau peristiwa yang menyatakan suatu perbuatan yang telah dikerjakan pada masa lampau dan telah berakhir pada saat itu pula. Masa lampau bisa baru saja, tadi, kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, dsb.

Keterangan waktu yang umumnya digunakan adalah since (sejak), for (selama), just (baru saja), just now (baru saja), before (sebelumnya).

  1. I.                   Bentuk Kalimat

 

  1. Kalimat Nominal
  • Positive

Subject                          + Has/Have                 + Been             + Object

  • Negative

Subject                          + Has/Have Not          + Been             + Object

  • Interrogative

Has/Have                      + Subject                     + Been             + Object

 

  • Has digunakan untuk He, She, It.
  • Have digunakan untuk I, You, We, They.

 

 

  1. Kalimat Verbal
  • Positive

Subject                          + Have/Has                 + Verb 3          + Object

  • Negative

Subject                          + Have/Has Not          + Verb 3          + Object

  • Interrogative

Have/Has                      + Subject                     + Verb 3          + Object

 

 

 

 

 

 

  1. II.                Contoh Penggunaan Kalimat
  2. Kalimat Nominal

Ia telah menjadi guru selama 2 tahun.

  • Positive

He has been a teacher for 2 years

  • Negative

He hasn’t been a teacher for 2 years

  • Interrogative

Has he been a teacher for 2 years?

Yes, he has

No, he hasn’t

 

  1. Kalimat Verbal

Kami telah dikenal sejak 2007.

  • Positive

We have known since 2007

  • Negative

We haven’t known since 2007

  • Interrogative

Have we known since 2007?

Yes, we have

No, we haven’t

sejarah sosiologi

SEJARAH SOSIOLOGI

 

PENDAHULUAN

 

Sejak lahir hingga sekarang, kita hidup di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan bersama itu melahirkan berbagai pengalaman berhubungan dengan orang lain. Di satu pihak, kita membutuhkan kehadiran orang lain. Di lain pihak, kita ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu. Singkatnya, pengalaman hidup bersama orang lain – mulai dari keluarga, sekolah, sampai masyarakat dan lingkungan – menyadarkan kita akan persamaan maupun perbedaan kita dengan orang lain.

Hubungan antara individu-individu dengan kesamaan dan perbedaan iu menimbulkan berbagai fenomena dalam masyarakat, berupa kerja sama dan pertentangan. Hubungan-hubungan yang senantiasa terjadi ini juga mengakibatkan masyarakat selalu berubah, mengalami kemajuan, atau kemunduran. Masyarakat pada gilirannya juga mempengaruhi individu. Singkatnya, sosiologi memperhatikan manusia sebagai bagian dari masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

Sejarah Singkat Tentang Sosiologi Pendidikan

           

Sosiologi lahir sejak manusia bertanya tentang masyarakat, terutama tentang perubahannya. Ratusan tahun sebelum masehi, pertanyaan tentang perubahan masyarakat sudah muncul. Namun, sosiologi dalam pengertian sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir belasan abad kemudian.

 

  1. Perkembangan Awal

Para pemikir Yunani kuno, terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles, beranggapan bahwa masyarakat terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran. Kemakmuran maupun krisis dalam masyarakat merupakan masalah yang tidak terelakkan. Anggapan tersebut terus dianut semasa Abad Pertengahan (abad ke-5 M sampai akhir abad ke-14 M). para pemikir seperti Agustinus, Avicenna, dan Thomas Aquinas menegaskan bahwa nasib masyarakat harus diterima sebagai bagian dari kehendak Ilahi. Sebagai makhluk yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang terjadi pada masyarakat. Pertanyaan (mengapa bisa begini atau mengapa bisa begitu) dan pertanggungjawaban ilmiah (buktinya ini atau itu) tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa itu.

 

  1. Abad Pencerahan: Rintisan Kelahiran Sosiologi

Sosiologi modern berakar pada karya para penikir Abad Pencerahan, pada abad ke-17 M. abad itu ditandai oleh beragam penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Derasnya perkembangan ilmu pengetahuan membawa pengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat. Pandangan itu harus juga berciri ilmiah. Artinya, perubahan yang terjadi di dalam masyarakat harus dapat dijelaskan secara masuk akal (rasional), berpedoman pada akal budi manusia. Caranya dengan menggunakan metode ilmiah. Francis Bacon dari Inggris, Rene Descartes dari Prancis, dan Wilhelm Leibnitz dari Jerman merupakan sejumlah pemikir yang menekankan pentingnya metode ilmiah untuk mengamati masyarakat.

 

  1. Abad Revolusi: Pemicu Lahirnya Sosiologi

Dengan perubahan pada abad pencerahan, terjadi perubahan revolusioner di sepanjang abad ke-18 M. perubahan itu dikatakan revolusioner karena dengan cepat struktur (tatanan) masyarakat lama berganti dengan struktur yang baru. Revolusi social paling jelas tampak jelas dalam Revolusi Amerika, Revolusi Industri, dan Revolusi Perancis. Ketiga revolusi itu berpengaruh ke seluruh dunia. Hal ini wajar mengingat kawasan Asia dan Afrika ketika itu menjadi koloni Eropa.

Revolusi-revolusi ini mengakibatkan perubahan-perubahan dan gejolak dalam masyarakat. Tatanan yang telah berusia ratusan tahun dalam masyarakat diobrak-abrik dan dijungkirbalikkan. Perubahan ini tak jarang juga disertai peperangan, pemberontakan, dan kerusuhan yang membawa kemiskinan dan kekacauan. Karena itulah, para ilmuwan tergugah untuk mencari cara menganalisis perubahan secara rasional dan ilmiah sehingga dapat diketahui sebab dan akibatnya. Tujuannya, agar bencana yang terjadi akibat perubahan-perubahan dalam masyarakat bisa diantisipasi dan dihindari.

 

 

Latar Belakang Munculnya Sosiologi Pendidikan

 

Tokoh-Tokoh Sosiologi Pendidikan

 

  1. Auguste Marie Francois Xavier Comte

Auguste Comte merupakan seorang tokoh brilian yang disebut sebagai peletak dasar sosiologi. Comte melihat hasil dari Revolusi Prancis cenderung ke arah reorganisasi masyarakat secara besar-besaran. Menurutnya, reorganisasi masyarakat hanya dapat berhasil jika orang mengembangkan cara berpikir yang baru tentang masyarakat. Jika ingin menciptakan masyarakat yang adil maka harus ada kesepakatan tntang dasar-dasarnya. Dasar-dasar itu hanya dapat dicapai apabila ada suatu metode yang dapat diandalkan sebagai hasil-hasilnya meyakinkan setiap orang.

Comte memperkenalkan metode positif, yaitu hukum mengenai urutan gejala-gejala sosial. Dia memperkenalkan hukum tiga stadia (tahap) yang berhubungan dengan perkembangan cara berpikir yang mendasari perkembangan masyarakat.

  1. Tahap Teologis. Pada tahap ini orang lebih suka dengan pertanyaan yang tidak dapat dipecahkan, yaitu tentang hal-hal yang tidak data diamati.
  2. Tahap Metafisik. Pada tahap ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sama dicari jawabannya pada hal-hal abstrak yang diibaratkan sebagai esensi (hakikat) dan eksistensi (keberadaan)
  3. Tahap Positif. Pada tahap ini, manusia mulai mencari jawaban yang tidak bersifat mutlak, dengan mempertanyakan kaitan statis serta dinamis dari gejala-gejala yang muncul.

 

  1. Emile Durkheim

Durkheim merupakan salah seorang peletak dasar-dasar sosiologi modern. Durkheim terpengaruh oleh tradisi para pemikir bangsa Prancis dan Jerman. Semua peengaruh ini diolah dengan kreatif oleh Durkheim sehingga sumbangannya sangat mengesankan dan berpengaruh besar terhadap sosiologi abad ke-20.

Dalam karya besarnya yang pertama, Duekheim membahas masalah pembagian kerja yang berfungsi untuk meningkatkan solidaritas. Duekheim membagi dua tipe utama solidaritas.

  1. Solidaritas Mekanis. Merupakan tipe solidaritas yang didasarkan atas persamaan.
  2. Solidaritas Organis. Merupakan system terpadu dalam organisme yang didasarkan atas keragaman fungsi-fungsi demi kepentingan keseluruhan.

Menurut Durkheim, yang harus dipelajari sosiologi adalah fakta-fakta social mengenai cara bertindak, berpikir, dan merasakan apa yang ada di luar individu dan memiliki daya paksa atas dirinya.

 

  1. Karl Marx

Karl Marx lebih dikenal sebagai tokoh sejarah ekonomi daripada seorang perintis sosiologi. Ahli filsafat dan aktivis ini mengembangkan teori mengenai sosialisme yang di kemudian hari di kenal dengan nama “Marxisme”. Meskipun demikian Marx merupakan seorang tokoh teori sosiologi yang patut diperhitungkan.

Menurut Marx, perkembangan pembagian kerja dalam ekonomi kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu:

  1. Kaum borjuis (kaum kapitalis), adalah kelas yang terdiri dari orang-orang yang menguasai alat-alat produksi dan modal.
  2. Kaum proletar, adalah kelas yang terdiri dari orang-orang yang tidak mempunyai alat produksi dan modal sehingga di eksploitasi untuk kepentingan kaum kapitalis.

 

  1. Herbert Spencer

Menurut Herbert Spencer, fakta pertama yang penting dalam proses evolusi social adalah peningkatan jumlah penduduk. Pertumbuhan ini tergantung pada persediaan makanan dan kesempatan-kesempatan yang disajikan oleh alam.

Spencer membagi 3 aspek dalam proses evolusi, yaitu diferensiasi structural, spesialisasi fungsional, dan integrasi yang meningkat. Lalu, Spencer membagi struktur, bagian, atau system yang timbul dalam evolusi masyarakat menjadi 3, yaitu:

  1. Sistem Penopang, berfungsi mencukupi keperluan-keperluan bagi ketahanan hidup anggota masyarakat.
  2. Sistem Pengatur, berfungsi memelihara hubunga-hubungan dengan masyarakat lainnya dan mengatur hubungan-hubungan yang terjadi di antara amggotanya.
  3. Sistem Pembagi (distributive), berfungsi mengangkut barang-barang dari suatu sistem ke sistem lainnya.

Tahap-tahap dalam proses evolusi social dengan tipe-tipe masyarakat, dibagi oleh Spencer menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. 1.      Tipe masyarakat primitive
  2. 2.      Tipe masyarakat militant
  3. 3.      Tipe masyarakat industry

 

  1. Max Weber

Max Weber menyatakan bahwa yang dipelajari oleh sosiologi adalah tindakan social. Menurut Weber, suatu tindakan manusia disebut tindakan social apabila tindakan ini dihubungkan dengan tingkah laku orang lain dan diorientasikan kepada apa yang terjadi sesudahnya.

Tidak semua kontak dengan manusia lain merupakan tindakan social. Individu yang melakukan tindakan social bersifat aktid juga reaktif. Kelakuan massa dengan individu-individu yang dipengaruhi oleh anggota lainnya secara pasif bukan termasuk tindakan social. Tindakan social juga merupakan kegiatan individu dan tidak pernah merupakan kegiatan kelompok. Weber menyebutkan dengan istilah bangunan social (soziale gebilde), seperti kegiatan Negara, perkumpulan, dan perusahaan.

 

 

Kapan Lahirnya Sosiologi Pendidikan

 

Pada abad ke-19, sejumlah ilmuwan menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan social. Para ilmuwan itu berupaya membangun suatu teori social berdasarkan cirri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia. Untuk membangun teori itu, perhatian mereka tercurah pada perbandingan masyarakat dan peradaban manusia, dari masa ke masa.

Ilmuwan yang sampai sekarang diakui sebagai bapak sosiologi adalah Auguste Comte. Dalam bukunya Cours de Philosophie Positive (filsafat positif), ilmuwan Perancis ini memperkenalkan istiah “sosiologi” sebagai pendekatan khusus untuk mempelajari masyarakat. Pendekatan khusus itu sebetulnya metode ilmiah yang biasa digunakan dalam ilmu alam (sains). Dengan demikian, Comte merintis upaya penelitian terhadap masyarakat, yang selama berabad-abad sebelumnya dianggap mustahil.

Rintisan Comte mendapat sambutan luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Pitirim Sorokin, Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Duekheim, Georg Simmel, dan Max Weber. Semuanya berasal dari Eropa. Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan sosiologi.

faktor yang menjadi penyebab masalah kesulitan belajar

faktor yang menjadi penyebab masalah kesulitan belajar

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Dalam sebuah proses pembelajaran metode dan pendekatan tidak bisa dipisahkan, karena kedua unsur ini merupakan alat dan cara yang digunakan untuk menunjang kelancaran suatu pendidikan.

Metode Pembelajaran merupakan cara atau tekhnik pengkajian bahan pelajaran yang akan digunakan guna saat pengkajian bahan pelajaran, baik secara individual maupun kelompok. Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pasti akan didukung oleh metode dan pendekatan pembelajaran, karena dalam pembelajaran, apabila sudah menggunakan kedua sistem diatas maka komponen-komponen pendidikan akan berjalan dengan baik.

Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, tujuan, pendekatan dan metode belajar-mengajar memilki peran yang sangat strategis dan fungsional. Dikatakan strategis karena merupakan “siasat” yang penuh makna untuk mencapai tujuan. Fungsional berarti memberikan dampak langsung terhadap pencapaian tujuan.

Oleh karena itu, kegiatan belajar mengajar bukanlah sekedar aktivitas yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berada dalam suatu ruangan atau lingkungan, melainkan merupakan suatu interaksi orientasi sosial, target dan bertujuan yang jelas. Interaksi yang bertujuan itu diciptakan dan dimaknai guru dalam membentuk lingkungan yang bernilai religius, edukatif, dan produktif dengan sepenuhnya diabadikan demi kepentingan peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bersama bagi pendidik dan peserta didik agar terbentuk pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan mencerdaskan, sehingga tercipta lingkungan pembelajaran benar-benar edukatif dan efektif.

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah kesulitan belajar?
    2. Dari beberapa faktor tersebut, bagaimana pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan?
    3. Metode-metode apa saja yang harus digunakan untuk memecahkan masalah kesulitan belajar tersebut?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Masalah Kesulitan Belajar
    1. Pengertian Kesulitan Belajar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.

Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual yang ada ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. “Dalam keadaan dimana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “kesulitan belajar”.

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh factor-faktor non-intelegensi”. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.

.

  1. Factor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Factor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam 2 golongan, yaitu berikut ini.

  1. Factor intern (factor dari dalam diri manusia itu sendiri)
    1. Factor fisiologi
    2. Factor psikologi
  2. Factor ekstern (factor dari luar manusia)
    1. Factor-faktor social
    2. Factor-faktor non-sosial

Dalam kamus pendidikann Smith[1] menambahkan factor metode mengajar dan belajar, masalah social dan emosional, intelek, dan mental.

  1. Faktor intern
    1. Sebab yang bersifat fisik
  • Karena sakit
  • Karena kurang sehat
  • Sebab karena cacat tubuh

 

  1. Sebab-sebab kesulitan belajar karena rohani
  • Inteligensi

Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapai. Anak yang normal (90-110) dapat menamatkan SD tepat pada waktunya. Mereka yang memiliki IQ 110-140 dapat digolongkan cerdas, 140 ke atas tergolong genius.

  • Bakat

Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang berbakat musik mungkin di bidang lain akan ketinggalan

  • Minat

Ada tidaknya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran. Dari tanda-tanda itu seorang petugas diagnosis dapat menemukan  apakah sebab kesulitan belajarnya.

  • Motivasi

Motivasi menurut Sumardi Suryabrata[2]adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.

 

  1. Factor Ekstern
    1. Factor keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai factor penyebab kesulitan belajar.

  1. Factor sekolah

Yang dimaksud sekolah, antara lain adalah:

  • Guru
  • Factor alat
  • Kondisi gedung
  • Kurikulum
  • Waktu sekolah dan disiplin kurang
  1. Kondisi ekonomi

Anak yang lahir dari keluarga yang kondisi ekonominya baik, tentu saja terpenuhi segala kebutuhannya.[3]

  1. Keadaan waktu[4]
  2. Factor mass media dan lingkungan social
  • Factor mass media meliputi: bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada disekeliling kita.
  • Lingkungan social meliputi: teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.

Menurut analisa pemakalah, banyak factor yang menjadi masalah kesulitan belajar seperti yang disebutkan di atas. Masalah kesulitan belajar tersebut tergantung individu yang menjalani proses belajar tersebut. Bagaimana cara dia memahami dan mengaplikasikan apa yang telah di dapat dari gurunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Pendekatan Belajar

Ragam Pendekatan Belajar:

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan[5] mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Banyak juga ragam pendekatan belajar yang dapat anda ajarkan kepada siswa untuk mempelajari bidang studi atau materi pelajaran yang sedang mereka tekuni, salah satunya lagi adalah pendekatan-pendekatan belajar yang dipandang representative (mewakili) yang klasik dan modern itu ialah: 1) pendekatan hukum jost; 2) pendekatan Ballard dan Clanchy; dan 3) pendekatan Biggs;

  1. Pendekatan Hukum Jost

Menurut Reber[6] (1988) salah satu asumsi penting yang mendasari hukum Jost (Jost’s Law) adalah siswa yang lebih sering memperhatikan material pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan material yang sedang ia tekuni. Selanjutnya, berdasarkan asumsi hukum Jost itu maka belajar misalnya dengan kiat 4×2 adalah lebih baik daripada 2×4 walaupun hasil perkalian kedua kiat tersebut sama.

Maksudnya, mempelajari sebuah material khususnya yang panjang dan kompleks dengan analokasi waktu 2 jam per hari selama 4 hari akan lebih efektif daripada mempelajari materi tersebut dengan analokasi waktu 4 jam sehari tetapi hanya selama 2 hari. Perempuan  perlu pendekatan belajar dengan cara mencicil sperti contoh diatas sehingga kini dipandang masih cukup berhasil guna terutama untuk materi-materi yang bersifat hafalan.

 

  1. Pendekatan Ballard dan Clanchy

Menurut Ballard dan Clanchy[7] (1990), pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude to knowledge). Ada 2 macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu:

1)      Sikap melestarikan apa yang sudah ada (concerving)

2)      Sikap memperluaskan (extending)

 

Siswa yang bersikap concerving pada umumnya menggunakan pendekatan belajar “reproduksi” (bersifat menghasilkan kembali fakta dan informasi) bahkan diantara mereka yang bersifat extending cukup banyak yang menggunakan pendekatan spekulatif (berdasarkan pemikiran mendalam), yang bukan saja bertujuan menyerap pengetahuan melainkan juga pengembangannya.

Mengenai bagaimana tipe, strategi, dan tujuan masing-masing pendekatan belajar tersebut.

 

  1. Pendekatan Biggs

Menurut hasil penelitian Biggs[8] (1991), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam 3 protopie (bentuk dasar), yakni:

1)      Pendekatan surface (permukaan atau bersifat lahiriah)

2)      Pendekatan Deep (mendalam)

3)      Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)

John B. Biggs[9], seseorang professor kognitif (cognitifi) yang pernah mengetahui jalur ilmu pendidikan universitas Hongkong selama beberapa tahun ini menyimpulkan bahwa protopie-protopie pendekatan belajar pada umumnya digunakan para siswa berdasarkan motifnya, bukan pada sikapnya terhadap pengetahuan.

Siswa yang menggunakan pendekatan surface misalnya, mau nelajar karena dorongan dari luar, (ekstresik) takut tidak lulus karena takut malu. Untuk itu gaya belajarnya santai asal hafal dan tidak mementingkan pengalaman yang mendalam.

Sebaliknya siswa yang menggunakan Deep biasanya mempelajari materi karena memang tertarik dan merasa membutuhkannya (intrinsic). Gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara mendalam serta memikirkan cara mengaplikasikannya.

Sementara itu,  siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus yang disebut ego-enhancement yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya, gaya belajar siswa ini lebih serius daripada siswa-siswa yang menggunakan pendekatan lainnya.

Menurut analisa pemakalah, pendekatan belajar seperti yang diterangkan di atas sangat baik untuk diterapkan kepada anak didik, hal ini membuat mereka akan lebih mudah memahami apa yang diterangkan oleh para pendidiknya. Pendekatan-pendekatan ini sangat ekektif dan efisien digunakan, karena akan mendorong para peserta didik untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.

  1. C.    Metode Belajar

Ragam Metode Belajar

  1. Metode SQ3R

Metode SQ3R yang dikembangkan oleh Prancis P. Robonson[10] di universitas negeri Ohio Amerika Serikat. Metode terdebut bersifat praktis dan dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan belajar.

SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan-singkatan langkah-langkah teks yang meliputi:

  1. Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti atau mengidentifikasikan seluruh teks
  2. Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks
  3. Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun
  4. Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan
  5. Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atau pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga

Langkah pertama, dalam melakukan aktifitas survey, anda perlu membantu dan mendorong siswa untuk meneliti secara singkat seluruh struk teks.

Langkah kedua, anda sekiranya memberikan petunjuk atau contoh kepada para siswa untuk menyusun pertanyaan dengan singkat, jelas dan relevan.

Langkah ketiga, anda sekiranya menyuruh siswa secara aktif dalam rangka mencari jawaban atas pertanyaan yang telah tersusun.

Langkah keempat, sekiranya anda menyuruh menyebutkan lagi jawaban-jawaban atas pertanyaan yang telah tersusun, latihlah siswa untuk tidak membaca catatan jawaban.

Langkah kelima pada langkah terakhir (review) anda sebaiknya menyuruh siswa untuk ulang seluruh pertanyaan dan jawab secara singkat.

 

 

  1. Metode PQ4R

Metode belajar lain yang dipandang dapat meningkatkan kinerja memori dalam memahami substansi teks adalah metode ciptaan Thomas dan Robinson (1972) yang disebut PQ4R singkatan dari Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review. Teknik menurut Anderson pada hakikatnya merupakan penimbulan pertanyaan pertanyaan dan Tanya jawab yang dapat mendorong pembaca teks melakukan pengelolahan secara mendalam dan lebih luas.

Menurut kami pemakalah, metode yang disebutkan diatas baik untuk digunakan, karena metode tersebut mencakup keseluruhan dari model pembelajaran para peserta didik. Seperti contohnya kita ambil satu metode, yaitu metode SQ3R yang merupakan Survey, Question, Read, Recite, Review yang berarti dumulai dari meneliti atau mengidentifikasi sampai terakhir menyuruh siswa untuk mengulang kembali apa yang sudah diterangkan di awal pembelajaran. Metode ini sangat efektif untuk digunakan, karena akan membuat para peserta didik menjadi lebih aktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Dalam belajar banyak pendekatan dan metode yang harus digunakan agar terjadi proses pembelajaran yang baik. Sebaiknya memahami dulu pendekatan dan metode yang harus digunakan dalam menuntut siswa itu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Beragam pendekatan dan metode belajar yang dapat diterapkan seseorang untuk mencapai suatu pembelajaran yang lebih baik, diantaranya:

Ragam pendekatan belajar:

  1. Pendekatan Hukum Jost
  2. Pendekatan Ballard dan Clanchy
  3. Pendekatan Biggs

Ragam metode belajar:

  1. Metode SQ3R
  2. Metode PQ4R

[1] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar,  (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), hlm. 79.

[2] Djaali, Psikologi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 101.

[3] Ely Manizar, pengantar Psikologi pendidikan, (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2008), hlm. 79.

[4] Ibid., hlm. 79.

[5]Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003), hlm. 108.

[6] Nyayu Khodijah, psikologi belajar, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2006), hlm. 136.

[7] Ibid, hlm. 137.

[8] Ibid, hlm. 139.

[9] Ibid.,

[10] Nyayu Khodijah, psikologi belajar, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2006), hlm. 145.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT: EMPIRISME

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sumber pengetahuan dalam diri manusia itu banyak sekali. Salah satu paham yang memaparkan tentang sumber pengetahuan adalah paham empirisme. Empirisme merupakan paham yang mencoba memaparkan dan menjelaskan bahwa, sumber pengetahuan manusia itu adalah pengalaman.

Ilmu-ilmu empiris ini memperoleh bahan-bahan untuk sesuatu yang dinyatakan sebagai hasil atau fakta dari sesuatu yang dapat diamati dengan berbagai cara. Bahan-bahan ini terlebih dahulu harus disaring, diselidiki, dikumpulkan, diawasi, diverifikasi, diidentifikasi, didaftar, dan diklasifikasikan secara ilmiah.

Paham empiris ini dikemukakan oleh beberapa pakar filsafat diantaranya Herbert Spencer, Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, Francis Bacon.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian Empirisme?
    2. Siapa saja tokoh dalam empirisme?
    3. Apa ide pokok dari filsafat empirisme?
    4. Bagaimana proses dalam mendapatkan pengetahuan dalam empirisme?

 

 

 

 

 

 

  1. Pengertian Empirisme

Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme.[1] Oleh karena itu, adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, maka pandangan terhadap filsafat mulai merosot. ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya di peroleh lewat indera (empiri), dan empirislah satu-satunya sumber. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme. Empirisme adalah salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengalaman itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.

Empirisme, berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indra. Indra memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudian kesan-kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia, sehingga menjadi pengalaman.

Untuk memahami inti filsafat empirisme perlu memahami dulu dua ciri pokok empirisme yaitu mengenai makna dan tiori tentang pengetahuan.

  1. Filsafat empirisme tentang teori makna, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola jumlah yang dapat di indra dan dihubungkan kualitas sebagai urutan pristiwa yang sama.
  2. Filsafat emperisme tentang teori pengetahuan, menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya.

 

 

  1. Tokoh-tokoh Dalam Aliran Empirisme

 

Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbles, David Home dan Jhon Lock, Sebagai berikut :

 

  1. Francis Bacon (1210-1292 M)

Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati. Kata Bacon selanjutnya, kita sudah terlalu lama dpengaruhi oleh metode deduktif. Dari dogma-dogma diambil kesimpulan, itu tidak benar, haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkret mengelompokkan, itulah tugas ilmu pengetahuan.

 

  1. Thomas Hobbles (1588-1679 M)

Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika Skolastik dan Fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab gurunya beraliran Aristotelien. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah suatu sistem materialistis yang besar, termasuk juga kehidupan organis dan rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori teori Kontrak Sosial. [2]

Materialisme yang dianut Hobbes yaitu segala yang bersifat bendawi. Juga diajarkan bahwa segala kejadian adalah gerak yang berlangsung secara keharusan. Bedasarkan pandangan yang demikian manusia tidak lebih dari satu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Manusia hidup selama jantungnya tetap bergerak memompa darahnya. Dan hidup manusia merupakan  gerak anggota-anggota tubuhnya. Menurutnya pula akal bukanlah pembawaan melainkan hasil perkembangan karena kerajinan. Ikhtiar merupakan suatu awal gerak yang kecil yang jikalau diarahkan menuju kepada sesuatu yang disebut keinginan, dan jika diarahkan untuk meninggalkan sesuatu disebut keengganan atau keseganan. Menurutnya pula pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan, yang disimpan didalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengamatan, yang disipan dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau. [3]

Pendapatnya tentang ilmu filsafat yaitu suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Karena filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan Tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebab-sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ilmu alam.

Menurut Thomas Hobbles berpendapat bahwa pengalaman  indrawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan data-data indrawi belaka. Pengikut aliran empirisme Thomas Hobbles yang lain diantaranya : Jhon Locke (1632-1704 M), David Hume (1711-1776 M), Geege Berkeley(1665-1753 M).

 

  1. Jhon Locke (1632-1704 M)

Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Dismaping itu sebagai ahli hukum, ia menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran manusia harus tahu sampai seberapa jauh ia memakai kemampuannya. [4]

Ia menentang teori rasionalisme, menurutnya segala pengetahuan datang dari penglaman dan tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan pengetahuan dari dirinya sendiri diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna oleh berbagai pengalaman.

Dalam penelitiannya John Locke menggunakan istilah Sensation dan Reflection. Sensation (pengalaman lahiriah) adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, Sedangkan reflection (pengalaman batiniah) pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia tentang kondisi psikis diri kita sendiri. Tiap-tiap pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari Sensation  dan reflection. Ttidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.

Buku Locke, Essay Concerming Human Understanding (1689) ditulis berdasarkan satu premix yaitu semua pengetahuan datang dari pengetahuan. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan ide untuk konsep tentang sesuatu yang ada dibelakang pengalaman tidak ada ide yang diturunkan seperti yang diajarkan Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate ide ; adequate idea dari Spinoza, truth of reason dari Leibeninz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan) itu tidak ada.

 

Inilah argumennya :

  1. Dari jalan masuknya pengetahuan kita megetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umum orang bertanggapan bahwa innate itu ada. Seperti yang ditempelkan pada jiwa manusia dan jiwa membawanya kedunia lain.
  2. Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang innate idea justru disajikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.

.

  1. innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekali juga diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate ide jusrtu saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
  2. Tidak juga dicetakan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berpikir.

 

Ia mengatakan bahwa apa yang dianggapnya pada jiwa substansi adalah pengertian tentang object sebagai idea tentang object itu yang dibentuk oleh jiwa berdasarkan masukan dari indra. Akan tetapi, Locke tidak berani menegaskan bahwa ide itu adalah substansi obyek. Substansi adalah persoalan metafisika sepanjang masa.

 

 

  1. David Home (1711-1776 M)

Empirisme, berpendirian bahwa hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Home termasuk dalam aliran empirisme radikal menyatakan, bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransangan indra). William James menyatakan, bahwa pernyataan tentang fakta adalah hubungan di antara benda-benda, sama banyaknya dengan pengalaman khusus yang diperoleh secara langsung panca indra.

 

  1. Herbert Spencer (1820-1903 M)

 Herbert Spencer berpusat pada  teori  evolusi. Sembilan tahun sebelum terbitnya karya Darwin yang terkenal. The Origin of Species (1859 M), Spencer sudah meneribitkan bukunya tentang teori evolusi. Empirismenya terlihat jelas dalam filsafat tentang the great unkwable (fenomena-fenomena atau gejala-gejala). Memang besar dibelakang gejala- gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolut itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala. Yang dibelakang gejala-gejala ada sesuatu yang oleh spenser disebut yang tidak diketahui.

 

  1. Ide pokok Empirisme
    1. pandangan bahwa sebuah idea tau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
    2. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan akal atau rasio.
    3. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data indrawi.
    4. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau disimpulkan secara tidak langsung dari data indrawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika
    5. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.
    6. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Tokoh-tokoh empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobbes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada 2 tokoh berikutnya John Locke dan David Hume

 

 

  1. Proses Mendapatkan Pengetahuan dalam Empirisme

Golongan empirisme memiliki pandangan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman. Hal ini dapat kita lihat seperti dalam masalah berikut. “Bagaimana kita mengetahui api itu panas?” Maka, seseorang empirisme akan berpandangan bahwa api itu panas karena memang dia mengalaminya sendiri dengan menyentuh api tersebut dan memperoleh pengalaman yang kita sebut “panas”. Dengan kata lain, dengan menggunakan alat inderawi peraba kita akan memperoleh pengalaman yang menjadi pengetahuan kita kelak.
John Locke, Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh melalui penginderaan serta refleksi yang sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secar demikian itu bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.


[1] H.a Fuad Ihsan. Filsafat Ilmu. (Jakarta : 2010) hal 163

[2] Asmoro Achmadi. Filsafat umum. (rajawali press : 2003 ) hal 112

[3] Harun Hadiwidodo. Sari sejarah filsafat barat   (yogyakarta : Kanikus 2005) hal 31

[4] Asmoro Achmadi., opcid.  hal 113

FUNGSI PENDIDIKAN: KEPENDIDIKAN DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR  BELAKANG MASALAH

                  Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif.

                  pendidikan merupakan upaya sadar manusia yang tidak pernah ada hentinya sebab jika manusia berhenti melakukan pendidikan sulit dibayangkan apa yang akan terjadi pada sistem peradaban dan budayanya. Sejak zaman batu sampai zaman modern, seperti saat ini, proses pendidikan manusia tetap berjalan meskipun tidak harus terjadi di jenjang persekolahan. Karena proses pendidikan harus berjalan sampai kapan pun, bangsa akhirnya membangun sistem pendidikan bagi bangsa itu sendiri. Sistem pendidikan yang dibangun akhirnya disesuaikan dengan tuntutan zamannya. Oleh karena itu sistem di Indonesia harus sesuai dengan tuntutan zaman agar tidak mengalami ketertinggalan zaman dari bangsa lain.

1

 Itulah sebenarnya yang akan menjadi persoalan besar bagi pendidikan kita di indonesia menghadapi tuntutan globalisasi dunia.

                  Pada saat ini kita mengahadapi persoalan besar dalam menghadapi kemajuan teknologi terutama dalam bidang pendidikan. Pada dewasa ini sudah banyak kita temukan arus informasi, barang, jasa, tenaga kerja, baik antar negara maupun antar bangsa yang merupakan dampak dari era globalisasi. Dampak globalisasi di samping sangat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan manusia seluruh dunia.

                  Pendidikan sangatlah penting bagi warga Negara masing-masing bangsa. Tidak hanya pendidikannya saja, melainkan tenaga pengajarnya pun harus handal dan kompeten sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan oleh bangsa tersebut. Khususnya di Indonesia, kita sangat memerlukan tenaga pengajar yang handal dan competen yang dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, tidak hanya cerdas namun juga berwawasan luas, mempunyai semangat yang tinggi dan mempunyai keterampilan yang baik dalam segala bidang.

                  Kita sebagai bangsa juga telah memiliki sebuah sistem pendidikan. Persoalannya sekarang adalah apakah sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini telah efektif  untuk mendidik bangsa Indonesia menjadi bangsa yang modern, memiliki kemampuan daya saing yang tinggi di tengah-tengah bangsa lain? Jawabannya tentu saja belum. Maka dari itu perlu dorongan moril dan materil untuk mewujudkan suatu system pendidikan yang dapat dijadikan contoh oleh bangsa lain.

 

2

 

 

  1. RUMUSAN MASALAH

            Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada beberapa pertanyaan terkait Kependidikan di indonesia, yaitu:

  1. Apa sebenarnya fungsi pendidikan di indonesia?
  2. Bagaimana realitas pendidikan di Indonesia?
  3. Apa yang harus diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia?
  4. Bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia?
  5. System apakah yang baik untuk diterapkan di Indonesia?
  6. Bagaimana cara untuk menerapkan system pendidikan yang baik di Indonesia?

 

  1. TUJUAN PENELITIAN     

          Fungsi mendidik adalah dengan dorongan dan keyakinan manusia bahwa ia di takdirkan memiliki istri dan anak yang menjadi tanggungjawabnya untuk melaksanakan tugas dalam mendidik, sehingga amanah yang dimilikinya menyebabkan ia  menyadari tanggungjawabnya untuk mendidik

◙ Manusia lahir tidak membawa apa-apa, maka dari itu manusia sangat memerlukan ilmu yang nanti bisa bermanfaat bagi kelanjutan hidupnya

3

◙ manusia berbeda dengan hewan yang tidak mempunyai ilmu, maka manusia yang tidak berilmu sama dengan hewan

◙ Manusia dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan lingkungannya sehingga memerlukan pengetahuan  yang di dapat dari hasil pendidikan

◙ Fitrah manusia yaitu sifat ingin tahu sehingga selalu dinamis untuk mendapatkan pendidikan guna memenuhi ke ingintahuannya

◙ Sesuai dengan ajaran Islam bahwa mendidik merupakan amanah Allah SWT, bahwa manusia di ciptakan Allah di bumi sebagai khalifah dan  mempunyai kewajiban untuk mendidik sesamanya

◙ Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan interaksi  sesamanya, sehingga untuk mempelajari dan mengajari budaya   yang selalu  berubah. setiap manusia di harapkan dapat mendidik manusia lainnya

◙ Manusia membutuhkan persiapan masa depan generasinya, sehingga diperlukan kemampuan mendidik bagi penerusnya guna mempertahankan generasi  selanjutnya.

                Karakteristik utamanya adalah tujuan pendidikan dirumuskan dengan berdasar pada penelitian pendidikan, muatan kurikulum bersifat antagonisme terhadap muatan akademik tingkat tinggi, membedakan kurikulum berdasar pada prediksi peran sosial, dan pengukuran bersifat standar yang cermat.

                Maka dari itu diperlukan tingkat satuan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh semua pihak. Tak kenal siapapun, semua makhluk hidup layak mendapatkan pendidikan yang terjamin dari pemerintah setempat.

 

4

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

            Setiap anak didik mempunyai   kemampuan   berbeda-beda walaupun di sekolah dilakukan pembelajaran dengan cara yang  sama, tapi kenapa mereka berbeda ? Faktor-faktor  apakah    yang   menyebabkan mereka itu berbeda ?

                        Penjelasannya , manusia adalah makhluk yang unik dan tidak ada yang sama antara dua manusia walaupun mereka anak kembar,  antara lain karena  terdapat hubungan antara pendidikan dan lingkungan sosialnya, disamping faktor-faktor lainnya. Karena secara ilmiah manusia adalah mahluk multi dimensi, kesatuan aspek biologis, kultur dan spiritual.  Selain itu manusia sebagai mahluk individual dan sosial. Lingkungan sosial dan budaya merujuk kepada tingkah laku yang dipelajari sebagai bagian dari andil, atau peran serta anggota masyarakat. Lingkungan sosial dan budaya sebagai sistem nilai dan gagasan besar yang di hayati, ditampilkan oleh seseorang atau sekelompok manusia di lingkungan hidup tertentu di suatu kurun waktu tertentu, budaya dapat berbentuk nilai, aturan, pola perilaku dan tingkah laku.

                        Pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta anak didik, melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

 

5

                        Cara  yang menyebabkan anak berbeda kemampuannya;  Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidikkhususnya orang tua bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil. Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.

                       

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

  1. REALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

  1. Calon Guru Menjauh dari Nilai-nilai Profesionalisme

Mutu pembelajaran pada semua jenjang pendidikan dikhawatirkan terus merosot akibat lemahnya pembekalan nilai-nilai profesionalisme pada calon guru semasa menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

6

 

Harapan untuk menanamkan nilai-nilai profesionalisme itu semakin jauh karena orientasi universitas eks IKIP mengalami pembiasan.

Universitas eks IKIP kini tampaknya latah membuka berbagai program studi dengan penekanan pada aspek akademis. Sementara nilai-nilai profesionalisme kependidikan semakin terabaikan.

Lembaga pendidikan profesi guru yang semula dicita-citakan dibentuk untuk mempertajam bekal profesionalisme para lulusan universitas eks IKIP sampai sekarang tidak terwujud.

Malah, hampir semua universitas eks IKIP itu membuka macam-macam program studi yang lebih berorientasi akademis ketimbang nilai profesionalisme

Akibat lemahnya pembekalan nilai profesionalisme kependidikan, para mahasiswa eks IKIP hanya mengenal ilmu kependidikan dari segi teori dan kurang mendalami dari sisi penjiwaan. Pada akhirnya, meski menyandang gelar sarjana pendidikan, para lulusan universitas eks IKIP tersebut tidak piawai menjabarkan kurikulum, lemah dalam mengenali dan menyiasati obyek studi, serta sulit berinteraksi dengan siswa dalam pembelajaran.

Intinya, mereka kurang siap dan tanggap menghadapi situasi persekolahan yang sekarang ini makin dinamis

 

 

 

7

orientasi akademis dengan sendirinya mengantar mahasiswa berpikiran berbeda dengan nilai-nilai profesionalisme kependidikan. Pasalnya, orientasi akademis tidak mengarahkan mahasiswa untuk membuat metode pembelajaran secara praktis, tetapi lebih mengarah pada pemikiran teoretis.

                Dalam hal ini, pendidikan dan latihan yang dilakukan pemerintah terhadap calon guru hendaknya tidak lagi hanya bersifat formalitas demi persyaratan pengangkatan guru semata, tetapi lebih bersifat penajaman nilai-nilai profesionalisme dan pembekalan situasi kekinian dalam sistem pendidikan.

 

  1. Sumber Daya Manusia

                  Pada zaman sekarang kurangnya sumber daya manusia sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah harus sigap dalam memilih sumber daya manusia yang baik, yang dapat di jadikan contoh oleh para siswanya nanti.

                  Tidak seperti di Negara-negara maju, Negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia, sumber daya manusianya sangat terbatas. Inilah yang menjadi salah satu factor yang membuat pendidikan di Indonesia semakin menurun.

 

 

 

8

                 

  1. Sistem pendidikan yang digunakan

 

                  Di Indonesia banyak hal yang menjadi pedoman pendidikan, hal ini dikarenakan system yang mengatur pendidikan di Indonesia adalah melalui pemerintah pusat, dimana sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia melakukan systemnya menurut keputusan yang telah diambil oleh pemerintah pusat.

                  Dalam hal ini, banyak keuntungan yang dapat diambil dari system tersebut, namun tidak sedikit pula mengalami penurunan dalam system pendidikan di Indonesia.

                  Banyak factor yang mendorong terjadinya keuntungan sistem tersebut di Indonesia, salah satunya adalah pendidikan di Indonesia dapat disetarakan dengan pendidikan di luar Indonesia, seperti di Negara-negara maju. Hal ini merupakan tindakan yang baik agar Negara indonesia tidak mengalami ketertinggalan dengan Negara lain.

                  Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang mata tenaga pengajar kita di indonesia, pendidikan di Indonesia ini memiliki dampak negatif yang cukup banyak, bahkan bisa membuat bangsa Indonesia itu sendiri mempunyai rasa ketidakjujuran. Seperti contoh di beberapa provinsi yang kita lihat di media massa, sekolah-sekolah di Indonesia yang guru dan muridnya ketahuan sedang menggunakan cara-cara yang tidak jujur, mereka itulah yang dimaksud dengan dampak negatif dari system pendidikan di Indonesia.

 

9

 Kita sebagai peneliti tidak bisa menyalahkan guru dan murid pada sekolah tersebut, hal ini dikarenakan system pendidikan yang ada di Indonesia terlalu menuntut para siswanya agar memiliki nilai di atas rata-rata, padahal tidak semua siswa memiliki kemampuan otak yang di atas rata-rata.

                  Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih belum stabil. Perlu banyak perbaikan-perbaikan dan evaluasi yang dapat membantu menaikkan strata pendidikan untuk ke jenjang yang lebih tinggi.

 

  1. Sistem yang sebaiknya digunakan

Menurut saya, pendidikan yang sebaiknya digunakan di Indonesia adalah system pendidikan demokratis dan berkeadilan, dimana menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa, tidak diskriminatif terhadap pendidikan. Pendidikan di Indonesia harus memilki nilai-nilai seperti:

1)      Berkeadilan (proporsional)

2)      Mengandung nilai-nilai keagamaan

3)      Mengandung nilai-nilai cultural

4)      Mengandung nilai-nilai kemajemukan bangsa

5)      Tidak diskriminatif

 

 

 

10

  1. Cara Menerapkan Sistem Pendidikan di Indonesia

                     Pendidikan di Indonesia sebaiknya memiliki prinsip penyelenggaraan pendidikan, seperti:

1)      Pendidikan dilaksanakan sebagai suatu kesatuan yang sistematik dengan system terbuka (seseorang bisa pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain) dan multimakna (pendidikan itu berisikan nilai-nilai yang lengkap)

2)      Diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat

3)      Pendidikan harus dilaksanakan secara demokratis dan berkeadilan. , dimana menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa, tidak diskriminatif terhadap pendidikan.

4)      Pendidikan diselenggarakan dengan memberikan keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan realitas peserta didik

5)      Pendidikan dikembangkan dengan adanya budaya membaca, menulis, dan berhitung

 

6)      Pendidikan dilaksanakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat, melalui peran serta dalam menyelenggarakan dan pengendalian mutu pendidikan

 

11

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

      Berdasarkan  permasalahan  dan  pembahasan  di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Pendidikan di Indonesia masih mengalami kesusahan dalam mencari tenaga pendidik yang berkompeten dan professional
  2. Masih kurangnya tenaga  pendidik yang benar-benar professional dalam bidangnya
  3. System yang mengatur pendidikan di Indonesia adalah melalui pemerintah pusat, dimana sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia melakukan systemnya menurut keputusan yang telah diambil oleh pemerintah pusat. Hal ini menimbulkan penekanan pada bawahan-bawahan pemerintah yang harus mencapai nilai dengan yang sudah di tentukan pemerintah
  4. Kurangnya budaya membaca bagi para siswa
  5. Kurang disiplinnya pendidik dalam hal-hal yang kecil sekalipun, contoh pada saat upacara penaikan bendera yang dilaksanakan setiap hari senin, para pendidik banyak

 

12

yang saling berbicara dengan para pendidik lainnya, sehingga menimbulkan contoh yang kurang baik bagi para siswanya

  1. Tidak adanya kejujuran dalam pendidikan di Indonesia
  2. Bukan hanya seorang pendidik yang kurang disiplin, bahkan siswpun banyak yang kurang disiplin, contohnya sering terjadi tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa hanya karena masalah sepele.
  3. Kurangnya rasa tanggung jawab para pendidik, sehingga dapat menimbulkan kata-kata “makan gaji buta”
  4. Seorang pendidik suka bersikap berkuasa pada siswanya, sehingga mengakibatkan siswa tersebut terdesak, baik itu terdesak secara ekonomi maupun batin
  5. Kurangnya rasa saling menghargai antara siswa dan pendidik
  6. Kurangnya rasa percaya seorang pendidik terhadap siswanya
  7. Minimnya sarana dan prasarana

 

  1. Saran

 

      Saran yang dapat disampaikan penulis terhadap permasalahan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut.

 

 

13

  1. Sebaiknya pendidikan di Indonesia dilakukan dengan sisitem yang dapat membangun mutu pendidikan. Jangan sampai mutu pendidikan di Indonesia mulai menurun dengan adanya system yang kurang baik di Indonesia
  2. Dengan cara meningkatkan sumber daya manusianya yang berkompeten maka pendidikan di Indonesia akan mengalami kemujuan dengan baik
  3. Sedikit mengubah system yang dipakai di Indonesia, mungkin akan mengubah pula pendidikan yang kurang baik menjadi lebih baik lagi, pendapat saya agar system di Indonesia menjadi system pendidikan yang berkeadilan dan demokratis
  4. Di bentuknya budaya membaca bagi para siswanya agar memperoleh pengetahuan yang lebih luas, karena membaca adalah jendela dunia
  5. Dimulai dari para pendidik agar bisa besikap disiplin di dipan para siswanya, bahkan jangan hanya ketika di depan siswanya, untuk kehidupan sehari-hari pun budayakanlah juga budaya disiplin, agar terbiasa dengan sikap tersebut
  6. Sikap jujur adalah sikap yang mudah tapi sukar untuk di lakukan, ada baiknya kita sebagai pendidik perlu adanya kejujuran agar pendidikan di Indonesia tidak mudah goyah dengan hal-hal yang berasal dari luar yang bisa menurunkan kejujuran dalam pendidikan
  7. Rasa tanggung jawab yang besar diperlukan untuk terbentuknya pendidikan yang baik di Indonesia
  8. Meningkatkan sarana dan prasarana yang belum ada atau bahkan yang sudah tidak layak pakai

14

   Sikap-sikap tersebut harusnya sudah bisa diketahui oleh para pendidik agar bisa memajukan pendidikan di Indonesia. Menjadi tugas utama seorang pendidik untuk mencerdaskan bangsa ini. Sikap yang harusnya di ambil dalam hal ini adalah sikap saling menghargai dalam segala hal, baik itu sesama tenaga pendidik, ataupun antara oendidik dengan siswanya.

  

   Optimis dalam menghadapi pendidikan di Indonesia adalah kunci kesuksesan utama dalam pendidikan. Bersikap optimis wajib ada dalam jiwa seorang pendidik, agar tercipta generasi yang cerdas, beragama, memiliki kepribadian, memiliki keterampilan, dan berakhlak mulia.

 

 

 

 

 

 

 

 

15

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alwi, Hasan (ed). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Nurhadi. 1991. Bagaimana Meningkatkan Kecepatan Membaca. Bandung: Sinar Baru

Wardani, IG.A.K, dkk. 2009. Pespektif Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Anwar, Desi. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Abditama

Sumber lain: Kompas, Koran Sriwijaya Post, Internet, Wawasan, Pembelajaran.

“Pentingnya Pendidikan Dalam Hidup Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara”.

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejak anak manusia lahir ke dunia, telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya, kendatipun dalam cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang-orang lain teman bergaul mereka, untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu. Dari uraian ini jelaslah kiranya, bahwa masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan di waktu-waktu yang akan datang.

Setiap individu memerlukan pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di lingkungan sekolah. Salah satu diantara ajaran Islam tersebut adalah mewajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Pendidikan juga merupakan faktor penentu stratifikasi hidup manusia dalam masyarakat.

Untuk meningkatkan kualitas manusia tersebut pemerintah telah memberikan kesempatan belajar kepada generasi muda melalui lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal untuk dididik, diajar dan dilatih dengan berbagai ilmu pengetahuan, sikap, nilai-nilai dan keterampilan. Program pendidikan dasar 9 tahun yang diadakan pemerintah wajib diikuti oleh seluruh anak di Indonesia baik yang mampu maupun yang kurang mampu. Bagi anak-anak yang kurang mampu dapat dibantu dengan adanya dana BOS yang menjadi anggaran pemerintah dari 10% APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) dan APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Upaya pemerintah dalam menangani pendidikan di Indonesia sudak selayaknya diacungi jempol, walaupun pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal di banding pendidikan di luar negeri.

Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Bukan saja sangat penting, bahkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh majunya pendidikan di negara itu.

Pendidikan pada intinya merupakan proses penyiapan subjek didik menuju manusia masa depan yang bertanggungjawab. Kata “bertanggungjawab” mengandung makna, bahwa subjek didik dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berani berbuat dan berani pula bertanggungjawab atas perbuatannya. Aktivitas-aktivitas pendidikan mencakup produksi dan distribusi pengetahuan yang terjadi baik dalam skema kelembagaan maupun pada proses social pada umunya.

 

  1. Tujuan Penelitian
  1. Untuk mengetahui penting atau tidaknya pendidikan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
  2. Untuk mengetahui pentingnya pendidikan di Indonesia
  3. Untuk mengetahui fakto-faktor apa saja yang mempengaruhi pendidikan
  4. Untuk mengetahui lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia
  5. Untuk mengetahui aspek-aspek dalam pendidikan

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian/definisi pendidikan ?
  2. Apa tujuan dan fungsi pendidikan ?
  3. Apa pentingnya pendidikan dan ilmu pendidikan ?
  4. kapan manusia dapat menikmati jenjang pendidikan ?
  5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan di Indonesia  ?
  6. Bagaimana Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan ?
  7. Apa saja lembaga-lembaga dalam pendidikan ?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Definisi Pendidikan

Bagi sebagian masyarakat awam, istilah pendidikan seringnya diidentikkan dengan “sekolah”, “guru mengajar di kelas”, atau “satuan pendidikan formal” belaka. Secara akademik, istilah pendidikan berspektrum luas. Pendidikan adalah proses peradaban dan pemberadaban manusia. Pendidikan adalah aktivasi semua potensi dasar manusia melalui interaksi antara manusia dewasa dengan yang belum dewasa. Pendidikan adalah proses kemanusiaan dan pemanusiaan sejati, dengan atau tanpa penyengajaan.

Masih ratusan lagi definisi dan makna pendidikan, termasuk metaforanya, seperti tertuang dalam kotak di bawah ini.

P  =PROSES

E  =ELEVASI

N  =NONDISKRIMINASI

D  =DINAMIS

I   =INTENSIF

D            =DEWASA

I   =INDIVIDU

K  =KONTINYU

A  =ADAPTABILITAS

N  =NIRLIMIT

 

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Latin “e-ducere” atau “educare” yang berarti “untuk memimpin atau memandu keluar”, “terkemuka”, “membawa manusia menjadi mengemuka”, “proses menjadi terkemuka”, atau “sebagian kegiatan terkemuka”.

Dari pengertian di atas, ada beberapa pendapat tentang definisi pendidikan dari beberapa pakar, antara lain:

  • Horne mendefinisikan pendidikan sebagai proses penyesuaian yang berlangsung terus-menerus bagi perkembangan intelektual, emosional, dan fisik manusia.
  • Brubacher (1969) mendefinisikan pendidikan sebagai suatu proses pengembangan potensi dasar manusia ya g berkaitan dengan moral, intelektual, dan jasmaninya untuk mencapai tujuan hidup dalam kerangka system social.
  • Noor Syam (1981) mendefinisikan pendidikan sebagai aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta, dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta keterampilan-keterampilan)
  • Menurut M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap pergaulan atau hubungan mendidik yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak
  • Di dalam Undang-undang (UU) No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), disebutkan bahwa, “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
  • Menurut GBHN, pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup
  • Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mancapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses interaksi manusiawi yang dilakukan oleh subjek dewasa untuk menumbuhkan kedewasaan pada subjek yang belum dewasa, dan juga sebagai proses kemanusiaan dan pemanusiaan secara terus-menerus.

 

 

 

 

  1. Tujuan dan Fungsi Pendidikan

Menurut sejarah : bangsa Yunani tujuan pendidikannya ialah ketentraman. Mereka berpendapat bahwa berperang adalah suatu perkara yang sangat penting untuk kemuslihatan hidupnya atau dunianya.

Adapun menurut Islam, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia supaya sehat, cerdas, patuh dan tunduk kepada perintah Tuhan serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Sehingga ia dapat berbahagia hidupnya lahir batin, dunia akhirat.

Demikian pula masing-masing orang mempunyai bermacam-macam tujuan pendidikan, yaitu melihat kepada cita-cita, kebutuhan dan keinginannya. Ada yang mengharapkan supaya anaknya kelak menjadi orang besar yang berjasa kepada nusa dan bangsa. Ada yang menginginkan supaya anaknya menjadi dokter, insinyur atau seorang ahli seni. Dan ada pula yang mengharapka supaya anaknya ulama besar, panglima perang dan lain-lain.

Semuanya itu tergantung kepada keinginan tiap-tiap untuk mengarahkan anaknya agar tercapai hajatnya itu.

Berhasil atau tidaknya keinginan tiap-tiap orang ada sangkut pautnya dengan bakat dan pembawaan dari tiap-tiap anak itu sendiri, yang harus diperhatikan oleh orang tuanya. Kadang-kadang keinginannya itu tidak sesuai dengan pembawaannya maka sukarlah akan tercapai tujuannya.

Pada umumnya tiap-tiap bangsa dan Negara sependapat tentang pokok-pokok tujuan pendidikan, yaitu: mengusahakan supaya tiap-tiap orang sempurna pertumbuhan tubuhnya, sehat otaknya, baik budi pekertinya, dan sebagainya. Sehingga ia dapat mencapai puncak kesempurnaannya dan berbahagia hidupnya lahir batin.

 

 

 

  1. Pentingnya Pendidikan dan Ilmu Pendidikan
  1. Pentingnya pendidikan

Mengapa pendidikan itu penting ?

Hal ini dapat disoroti lewat:

1)      Segi anak

Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh, oleh karena itu pendidikan penting sekali karena mulai sejak bayi belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya, baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat diri, semua kebutuhan tergantung ibu/orang tua

2)      Segi orang tua

Pendidikan adalah karena dorongan orang tua yaitu hati nuraninya yang terdalam yang mempunyai sifat kodrati untuk mendidik anaknya baik dalam segi fisik, soaial, emosi, maupun intelegensinya agar memperoleh keselamatan, kepandaian, agar mendapat kebahagiaan hidup yang mereka idam-idamkan, sehingga ada tanggung jawab moral atas hadirnya anak tersebut yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dapat dipelihara dan dididik dengan sebaik-baiknya. Hal ini harus dilakukan dengan rasa kasih sayang.

  1. Pentingnya mempelajari ilmu pendidikan

Pentingnya mempelajari ilmu pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Untuk pengembangan individu

Seperti kita ketahui manusia sebagai makhluk berbudaya dapat mengembangkan dirinya sedemikian rupa sehingga mempu membentuk norma dan tatanan kehidupan yang didasari oleh nilai-nilai luhur untuk kesejahteraan hidup, baik perorangan maupun untuk kehidupan bersama.

  1. Bagi pendidik pada umumnya

Dengan memahami pendidikan pendidik dapat:

  1. Memudahkan praktek pendidikan
  2. Dapat menimbulkan rasa kecintaan pada diri pendidik terhadap tugasnya, terhadap anak didik dan terhadap kebenaran
  3. Dapat menghindari banyak kesukaran dan kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan

Kesalahan yang mungkin dibuat dalam mendidik diantaranya:

–          Cara mendidik yang terlalu keras

–          Cara mendidik yang tidak memberi kesempatan untuk berkembang

–          Kesalahan menekankan tujuan pendidikan yang diinginkan

  1. Dari segi pembangunan

Seperti kita ketahui dari GBHN tentang dasar dan tujuan pendidikan nasional: “pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budipekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta, bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Begitu pentingnya pendidikan untuk pembangunan bangsa maka pemerintah telah berusaha keras untuk:

  1. Meningkatkan usaha pemerataan pendidikan
  2. Meningkatkan mutu pendidikan dalam setiap tingkat pendidikan
  3. Meningkatkan relevansi pendidikan
  4. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi
  1. Jenjang Pendidikan

Secara konstitusional, seperti tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas dinyatakan bahwa salah satu tujuan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih lanjut dalam Amandemen UUD 1945 khususnya pada Bab XII Pasal 28A ayat (1) disebutkan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan, dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualias hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya Pasal 31 ayat (2) menegaskan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Penyelenggaraan wajib belajar pendidikan dasar ini merupakan bagian dari kebijakan pendidikan di Indonesia dalam mewujudkan pendidikan untuk semua sesuai dengan prinsip education for all.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) menggariskan pentingnya Wajib Belajar sebagai program pendidikan yang wajib diikuti setiap warga Negara Indonesia atas tanggungjawab pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Wajib Belajar sebagaimana dimaksud dalam ketentuan itu diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar seluas-luasnya kepada anak usia 7 sampai dengan 15 tahun sampai lulus tanpa membedakan latar belakang agama, suku, social, budaya, dan ekonomi. Setiap warga yang berusia lebih dari 15 (lima belas) tahun yang belum lulus program wajib belajar dapat menyelesaikan pendidikannya di luar tanggungan Pemerintah dan /atau pemerintah daerah. Karena setiap warga Negara usia wajib belajar berhak mendapatkan pelayanan wajib belajar yang bermutu, maka orang tua anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan dasar.

 

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak hal-hal atau faktor-faktor. Factor-faktor yang mempengaruhi belajar itu adalah banyak sekali macamnya, terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Untuk memudahkan pembicaraan dapat dilakukan klasifikasi demikian:

1)      Factor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu:

  1. Factor-faktor non-sosial, dan
  2. Factor-faktor social

2)      Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan ini pun dapat lagi digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu:

  1. Faktor-faktor fisiologis, dan
  2. Faktor-faktor psikologis

v  Factor-faktor non-sosial dalam belajar

Kelompok factor-faktor ini boleh dikatakan juga tidak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, ataupun malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang digunakan untuk belajar (alat tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaran).

Semua factor-faktor yang telah disebutkan diatas itu, dan juga factor-faktor lain  yang belum disebutkan harus kita atur sedemikian rupa, sehingga dapat membantu (menguntungkan) proses/perbuatan belajar secara maksimal. Letak sekolah atau tempat belajar misalnya harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tdak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan sekolah. Demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis, psikologis dan paedagogis.

v  Factor-faktor social dalam belajar

Yang dimaksud dengan factor-faktor social disini adalah factor manusia (sesama manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsyng hadir.

v  Factor-faktor fisiologis dalam belajar

Factor-faktor fisiologis ini masih dapat lagi dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

a)      Tonus jasmani pada umumnya, dan

b)      Keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu.

 

  1. Keadaan Tonus jasmani pada umumnya

Keadaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar; keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar; keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya daripada yang tidak lelah. Dalam hubungan dengan hal ini ada 2 hal yang perlu dikemukakan.

  1. Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani
  2. Beberapa penyakit yang kronis dapat menganggu belajar
  3. Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama fungsi-fungsi pancaindera

Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar menggunakan pancainderanya. Berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar berlangsung dengan baik. Dalam system persekolahan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling utama memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga.

v  Factor-faktor psikologi dalam belajar

Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut:

–          Adanya sifat ingin tahu dan menyelidiki dunia yang lebih luas;

–          Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju;

–          Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman;

–          Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru.

–          Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran;

–          Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar. (Frandsen, 1961:216)

Maslow (menurut Frandsen, 1961:234) mangemukakan motif-motif untuk belajar itu ialah:

–          Adanya kebutuhan fisik;

–          Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas dari kekhawatiran;

–          Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain;

–          Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan dari masyarakat;

–          Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetengahkan diri;

Apa yang telah dikemukakan itu hanyalah sekadar penyebutan sejumlah kebutuhan-kebutuhan saja, selanjutnya suatu pendorong yang biasanya besar pengaruhnya dalam belajarnya anak-anak didik kita ialah cita-cita, sehingga dorongan tersebut mampu memobilisasikan energy psikis untuk belajar.

 

  1. Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan

a)      Pengertian ilmu pengetahuan dan syarat-syaratnya

Ilmu pengetahuan ialah suatu uraian yang lengkap dan bersusun tentang suatu obyek. Demikian Dr. Sutari Barnadib.

Drs. Amir Daien Indrakusuma mengartikan ilmu pengetahuan dengan menyatakan sebagai berikut: ilmu pengetahuan itu ialah uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah.

Adapun syarat sesuatu dapat disebut ilmu pengetahuan harus mempunyai:

  1. Obyek formal sendiri
  2. Metode penelitian
  3. Sistematika uraian

b)      Ilmu pendidikan memenuhi syarat sebagai ilmu pengetahuan

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa ilmu pengetahuan harus mempunyai syarat adanya obyek formal, adanya metode penelitian dan sistematika. Adakah ketiga syarat tersebut terpenuhi oleh ilmu pendidikan ?

Uraian berikut ini adalah jawabannya.

1)      Obyek ilmu pendidikan

  1. Obyek material dan obyek formal

Pendidikan merupakan aktivitas/kegiatan si pendidik secara sadar membawa anak didik ke arah kedewasaan.

Anak didik adalah manusia, berarti obyek ilmu pendidikan adalah manusia. Tetapi manusia ini juga menjadi obyek ilmu-ilmu sosial lainnya, mana manusia adalah obyek material ilmu pendidikan.

  1. Obyek formal

Adapun obyek formal ilmu pendidikan adalah problema-problema yang menyangkut apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana hubungannya dengan usaha membawa anak didik kepada satu tujuan. Dengan kata lain, obyek formal ilmu pendidikan adalah kegiatan manusia dalam usahanya membawa/membimbing manusia lain kepada kearah kedewasaan, yaitu terlepas dari ketergantungan kepada manusia lain.

 

  1. Pembagian ilmu pengetahuan

Istilah “ilmu” atau “ilmu pengetahuan” dalam bahasa asingnya kita kenal dengan istilah “science”, sedang “pengetahuan” dalam bahasa asingnya kita kenal dengan istilah “knowledge”.

Adapun pembagian ilmu pengetahuan dapat ditinjau dari beberapa segi, antara lain:

  1. Ditinjau dari segi essensialnya
    1. Pure science/teoritical science
    2. Applied science/practical science
    3. Ditinjau dari segi obyeknya
      1. Natural science
      2. Social science
      3. Ditinjau dari segi prosesnya
        1. Historical science
        2. Experimental science
        3. Ditinjau dari segi pengalaman
          1. Empirical science
          2. Pure science
          3. Ditunjau dari segi agama
            1. Duniawy
            2. Ukhrowy

 

Pembagian-pembagian limu pengetahuan tidak terbatas pada pembagian-pembagian tersebut, karena bisa terjadi orang membagi dari segi lain, umpamanya dari segi eksak atau bukan, dari segi jahat tidaknya (ilmu hitam dan ilmu putih) dan sebagainya.

c)      Kedudukan ilmu pendidikan pada ilmu pengetahuan

Dari masa ke masa, ilmu pengetahuan selalu berkembang dan banyak ilmu pengetahuan baru yang muncul memisahkan diri dari indukny. Munculnya ilmu pengetahuan baru itu karena memenuhi syarat maka ia berhak berdiri sendiri.

Dengan demikian semakin banyak bermacam-macamnya ilmu pengetahuan di tengah-tengah kita. Ilmu pengetahuan yang telah memisahkan diri dari induknya itu juga bermunculan ilmu pengetahuan yang memenuhi syarat sebagai ilmu pegetahuan yang berhak berdiri sendiri.

d)     Hubungan teoritis dengan praktis

Ilmu pendidikan teoritis umpamanya tidak lepas dri norma-norma yang disusun berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah dipraktekan di masa lampau, sehingga berdaya guna untuk pedoman dalam praktek pendidikan.

Teori pendidikan meliputi pengetahuan dan pengalaman yang disusun dengan logis sistematis mengenai kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang dijalankan dengan tujuan mengubah tingkah laku manusia ke arah yang diinginkan.

Hubungan teori dan praktek sangat erat, sebab teori pendidikan sebenarnya berasal dari realitet sehari-hari. Realitet pendidikan sehari0hari diselidiki, dikumpulkan, dibandingkan, dianalisa dan disimpulkan, sehingga terbentuklah teori pendidikan .

 

Teori dan praktek pendidikan pengaruh mempengaruhi dan saling membantu. Artinya, teori pendidikan dapat digunakan untuk mengontrol praktek pendidikan dan praktek pendidikan dapat menggunakan teori pendidikan. Bahkan Mangkunegoro IV dalam bukunya Wedatama menyatakan:

“Ngelmu iku lakone kanti laku yang maksudnya teori itu harus dipraktekkan dalam perbuatan.

Prof. Gurning menyatakan, teori tanpa praktek itu hanya bagi orang yang luar biasa (genius) dan praktek tanpa teori itu hanya bagi orang yang gila.

  1. Lembaga-Lembaga Dalam Pendidikan

Lembaga-lembaga pendidikan ini dapat di bagi menjadi beberapa lembaga, yakni:

  1. Lembaga pendidikan formal, non-formal dan informal
    1. Lembaga pendidikan formal

Pada umumnya pendidikan formal adalah tempat yang paling memungkinkan seseorang meningkatkan pengetahuan, dan paling mudah untuk membina generasi muda yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat. Contohnya, sekolah.

  1. Lembaga pendidikan non-formal

Pada umumnya pendidikan non-formal adalah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, dan berencana, diluar kegiatan persekolahan. Komponen yang diperlukan harus disesuaikan dengan keadaan anak/peserta didik agar memperoleh hasil yang memuskan.

 

Menurut surat keputusan menteri Dep. Dik. Bud nomor: 079/O/1975 tanggal 17 April 1975, bidang pendidikan non-formal meliputi:

1)      Pendidikan masyarakat

2)      Keolahragaan

3)      Pembinaan generasi muda

  1. Lembaga pendidikan in formal

Pendidikan in formal ini terutama berlangsung di tengah keluarga. Namun mungkin juga berlangsung di lingkungan sekitar keluarga tertentu, perusahaan, pasar, terminal, dan lain-lain yang berlangsung setiap hari tanpa ada batas waktu.

Pendidikan ini berlangsung diluar sekolah, misalnya di dalam keluarga atau masyarakat, tetapi juga dapat pada saat di dalam suasana pendidikan formal/sekolah, misalnya saja waktu istirahat sekolah, waktu jajan di kantin, atau pada waktu saat pemberian pelajaran tentang keadaan sikap guru mengajar, atau saat guru memberi tindakan tertentu kepada anak.

Pendidikan in formal ini mempunyai tujuan tertentu, khususnya untuk lingkungan keluarga/rumah tangga, lingkungan desa dan lingkungan adat.

 

TABEL I

PERBANDINGAN DARI KETIGA LEMBAGA PENDIDIKAN

 

 

No.

Ketentuan

Pend. Formal

Non formal

In formal

1

Tempat langsung

Gedung sekolah

Luar sekolah

Utama dalam keluarga inti

2

Syaratnya

Usia, sesuai dengan

jenjang pendidikan

Kadang-kadang ada tetapi tidak penting

3

Jenjang

Ada dan ketat

Biasanya tidak ada

4

Program

Kurikulum

Ada

5

Bahan pelajaran

Akademis

Praktis dan khusus

6

Lama pendidikan

Panjang

Singkat

Terus menerus

7

Usia peserta

Relatif sama

Tidak sama

Terus menerus

8

Penilaian

Ada/STTB

Ada/sertifikat

9

Penyelenggaraan

Pemerintah dan swasta

Pemerintah dan swasta

10

Metoda

Tertentu

Tak selalu

11

Tenaga

Ada SIM

Tak selalu

12

Administrasi

Sistematis

Tak selalu

13

Sejarahnya

Agak tua

Tertua, sejak manusia ada di dunia

 

 

 

  1. Keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama

Kata keluarga secara etimologi menurut K.H. Dewantara adalah sebagai berikut:

“bagi bangsa kita perkataan “keluarga” tadi kita kenal sebagai rangkaian perkataan-perkataan “kawula” dan “warga”. Sebagai kita ketahui, maka “kawula” itu tidak lain artinya daripada “abadi” yakni “hamba” sedangkan “warga” bararti “anggota”. Sebagai “abadi” di dalam “keluarga” wajiblah sesorang disitu menyerahkan segala kepentingan-kepentingannya kepada keluarganya. Sebaliknya sebagai “warga” atau “anggota” ia berhak sepenuhnya pula untuk ikut mengurus segala kepentingan didalam keluarganya tadi”.

Kalau kita tinjau dari ilmu sosiologie, keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terjadi dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan, yakni kesatuan antara ayah ibu dan anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat.

Keluarga sebagai alam pendidikan pertama (dasar)

Menurut Imam Ghozali. “anak adalah suatu amanat Tuhan kepada ibu bapaknya”!

Anak adalah anggota keluarga, dimana orang tua adalah pemimpin keluarga, sebagai penanggung jawab atas keselamatan warganya di dunia dan khususnya di akhirat.

Maka orang tua wajib mendidik anak-anaknya. Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluarga, akan api neraka”. (Q.S At-Tahrim:6).

Karena keluarga adalah merupakan ajang dimana sifat-sifat kepribadian anak terbentuk mula pertama, maka dapatlah dengan tegas kami katakan, bahwa keluarga adalah sebagai alam pendidikan pertama.

Di antara anggota keluarga, maka pengaruh ibu lah yang paling banyak. Hal ini bisa kita maklumi, karena sejak anak itu lahir sampai akan menginjak dewasa, anak dalam kehidupan sehari-harinya lebih berdekatan dengan ibu di banding dengan lainnya. Jadi peranan ibu nampak lebih berfungsi dalam pendidikan anak-anaknya. Oleh sebab itulah maka agama Islam menganjurkan kepada para pemuda khususnya, untuk mencari calon ibu (istri) seorang yang baik agar kelak baik pula dalam mendidik anaknya.

 

Allah menganjurkan dalam firmannya yang artinya:

“Maka, kawinilah wanita-wanita yang baik bagimu”.

(Q.S An-Nisa’: 3)

Jelaslah bahwa nukilan-nukilan tersebut di atas memperkuat dari apa yang kami tegaskan bahwa keluarga adalah sebagai alam pendidikan pertama(dasar).

  1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan kedua

Sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhn ya besar sekali pada jiwa anak. Maka di samping keluarga sebagai pusat pendidikan, pendidikan sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentuk pribadi anak.

Dengan sekolah, pemerintah bangsanya untuk menjadi seorang ahli yang sesuai dengan bidang dan bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya, dan berguna bagi nusa dan bangsanya.

Lamanya pendidikan juga ikut menentukan berhasilnya pembentukan pribadi, yaitu:

  1. Sejak anak umur 4 atau 5 tahun ada yang sudah dimasukkan ke sekolah, yaitu sekolah taman kanak-kanak atau Bustanul athfal.
  2. Kemudian umur 6 tahun anak disekolahkan ke sekolah dasar atau Ibtidaiyah. Mulailah anak diberi ilmu pengetahuan dasar di samping pendidikan selama 6 tahun, yaitu sampai dengan umur 12 tahun, anak terus menerus diberi pendidikan dan pengajaran.
  3. Sekitar umur 13 tahun anak meneruskan ke sekolah tingkat menengah pertama atau Tsanawiyah.
  4. Sekitar umur 16 tahun anak melanjutkan ke sekolah menengah atas atau Aliyah selama 3 tahun lagi.

Jadi, selama 14 tahun anak hidup di dalam pendidikan sekolah. Waktu 14 tahunadalah cukup lama untuk bisa ikut menentuka pribadi anak. Ada pula sekolah yang merangkaikan antara waktu sekolah menengah dengan sekolah menengah atas, seperti PGA 6 tahun (pendidikan guru agama), Muallimin dan muallimat.

  1. Bagi anak yang masih besar minatnya untuk melanjutkan kuat fikirannya serta mampu biayanya, masih bisa melanjutkan studinya ke perguruan tinggi atau Al-Jami’ah selama 3 tahun sarjana muda atau 5 tahun sarjana lengkap.

Mengingat cukupnya waktu dan pentingnya fungsi sekolah dalam ikut serta pembentukan pribadi anak, maka pendidikan yang hanya bersifat intellectualistic saja adalah kurang affectief, mengkhianati amanat orang tua si kecil, menyia-nyiakan kesempatan yang baik nagi si anak yang sedang dalam pertumbuhan jasmani dan rohani dan sebagai suatu kesalahan yang besar, yang harus kita perhatikan dan selanjutnya tidak boleh kita biarkan, melainkan harus kita kembalikan ke fungsi yang sebenarnya.

  1. Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga

1)      Norma-norma sosial budayanya

Masyarakat sebagai lambang pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yan g berbeda dengan ruang lingkungan dengan batasannya yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.

Masalahnya pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa melepaskan dari nilai-nilai sosial budaya yang di junjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat.

 

2)      Aktivitas kelompok sosial

Kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari 2 orang atau lebih dan bekerja sama di bidang tertentu untuk mencapai tujuan tertentu adalah merupakan sumber pendidikan bagi warga masyarakat, seperti lembaga-lembaga sosial budaya, yayasan-yayasan, organisasi-orginisasi, perkumpulan-perkumpulan, yang kesemuanya itu merupakan unsur-unsur pelaksanaan atas pendidikan masyarakat.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan manusia. semenjak manusia saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang-orang lain teman bergaul mereka, untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu. Dari uraian ini jelaslah kiranya, bahwa masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan di waktu-waktu yang akan datang.

Seperti menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal dunia. Jadi, pendidikan itu sangatlah penting dan berlangsung seumur hidup.
DAFTAR PUSTAKA

 

Rusmaini. 2011. Ilmu Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press

Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Haryanta, Agus. 2007. Panduan Belajar Bahasa Dan Sastra Indonesia. Tangerang: Erlangga

Mulyati, Yeti, dkk. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka

Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Wardani, dkk. 2009. Perspektif Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka

Suryanto, Alex. 2007. Panduan Belajar Bahasa Dan Sastra Indonesia. Tangerang: Erlangga

Danim, Sudarwan. 2010. Pengantar Kependidikan. Bandung: Alfabeta

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Anwar, Desi. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Abditama.